Warung Sate Klopo Ondomohen Surabaya warisan mertua, berdiri sejak 1945
Sate Klopo Ondomohen Bu Asih berlokasi di Jl. Walikota Mustajab no. 36, Ketabang, Kecamatan Genteng merupakan warung sate legendaris di Surabaya. Didirikan pada tahun 1945, stan ini memiliki alasan tersendiri kenapa semua karyawannya adalah wanita.
Saya tahu bahwa Ny. Warung Sate Asin Klopo Ondomohen merupakan salah satu warung sate legendaris dan terlaris di Surabaya. Pengunjung yang datang seakan tak ada habisnya dan silih berganti mengisi warung sate yang buka setiap jam mulai pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB ini. Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa, pejabat, turis, bahkan pejabat provinsi hingga ibu kota, sering mengunjungi toko ini. Sesampainya di sana pada pukul 12.15 WIB, pada Sabtu (12/11/2021) siang itu, saya mendapati warung Sate Kelopo Ondomohe Bu Asih penuh dengan tamu.
"Nanti kalau ada kursi kosong, duduk aja Mas. Sibuk," kata salah satu pelayan yang awalnya sibuk mengantarkan pesanan.
Resep sate warisan ibu mertua saya
Kata Ibu Asih, warung sate yang sekarang ia kelola sebenarnya merupakan warisan dari mertuanya yang merupakan keturunan Madura. Menurut cerita Bu Asih, ibu mertuanya sudah berjualan sate sejak tahun 1945, sekitar awal kemerdekaan Indonesia. Mertua Bu Asih belum memiliki toko sendiri saat itu. Jadi cara menjualnya adalah dengan membawa dari desa ke desa. Hanya beberapa tahun kemudian, mertua Bu Asih memiliki cukup uang untuk menyewa tempat di seberang Jl. Mayor Mustajab yang saat itu masih bernama Jl. Ondomohen. Sebelum akhirnya pindah kembali ke tempat tinggal Bu Asih sekarang.
“Apa yang terkenal dengan Sate Ondomohen? Karena nama jalannya Mas. Sebelumnya bernama Jl. Ondomohen alias Sate Ondomohen. Sekarang ini kami pakai nama itu karena kalau dibilang harus lebih historis", ujar nenek ramah itu.
Tidak berencana membuka kantor cabang
Karena konter Sate Klopo Ondomoheni milik Bu Asih saat ini sudah beroperasi, masuk akal jika Bu Asih memutuskan untuk membuka cabang. Tapi Bu Asih tidak pernah berpikir untuk kesana. Bagi saya, Bu Asih mengaku sudah cukup dengan satu warung yang ia jalankan saat ini.
“Cuma satu pak, jangan bercabang. Karena kalau buka banyak cabang, maka yang namanya mata pencaharian akan terbagi rata. Jadi berapapun cabangnya, kalau mata pencaharian itu sesuai dengan satu profesi, bukankah itu sama?kakak? Jadi satu saja sudah cukup,” kata Bu Asih sambil tertawa.
Padahal, Ibu Asih bisa saja meminta anaknya untuk menjalankan cabang jika cabang dibuka. Namun, Bu Asih ingin anaknya meneruskan apa yang sudah dilakukan Bu Asih selama ini. Optimalkan apa yang Anda miliki. Selain itu, kedekatan dengan karyawan yang bekerja dengan Asih hingga saat ini akan tetap terjaga. “Pokoknya, ini berkah saja buat saya Mas. Caranya adalah dengan menjaga kualitas sate kita. Di situ pelanggan suka. Berkah kita buat pelanggan seperti ini,” ujarnya.
Menjelang akhir pembicaraan kami, Bu Asih menjelaskan bahwa dia bisa makan 100-70 kg daging sapi dan 30-40 kg ayam sehari. Kecuali saat PSBB dan PPKM beberapa bulan lalu.
Pada masa itu, diakui Ibu Asih, tokonya sangat sulit untuk beroperasi. Pada siang hari, dia hanya menyediakan setengah daging dari hari biasa. Dia bahkan harus menutup tokonya selama berbulan-bulan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar